SEDATI ACEH (SEHARI BERBUDAYA PASTI) ACEH DI SMP NEGERI 2 BANDA ACEH MENAMPILKAN DRAMA CUT NYAK DHIEN DAN TARI KUTIDHING

Cut Nyak Dien lahir di Kampung Lam Padang Peukan Bada, Aceh Besar pada tahun 1848. Ia termasuk keturunan bangsawan Aceh, that brani gelawan belanja. Suami dr Cut Nyak Dhien yang pertama adalah Ibrahim Lamnga, watenyan Ibrahim Lamnga syahid melawan Belanda, setelah itu baru menikah dengan Teuku Umar, dilanjutkan dengan tarian Kutidhing

SEDATI ACEH (SEHARI BERBUDAYA PASTI) ACEH DI SMP NEGERI 2 BANDA ACEH MENAMPILKAN DRAMA CUT NYAK DHIEN DAN TARI KUTIDHING

Banda Aceh- SMP Negeri 2 Banda Aceh mengenalkan kembali budaya-budaya serta kearifan lokal di tanah Serambi Mekkah kepada peserta didik merupakan salah satu usaha untuk tetap melestarikan budaya Aceh. Mengenalkan kembali kisah perjuangan seorang perempuan Aceh Besar tepatnya Lam Padang Peukan Bada yang tidak gentar melawan Belanda.

Cut Nyak Dien lahir di Kampung Lam Padang Peukan Bada, Aceh Besar pada tahun 1848. Ia termasuk keturunan bangsawan Aceh, that brani gelawan belanja. Suami dr Cut Nyak Dhien yang pertama adalah Ibrahim Lamnga, watenyan Ibrahim Lamnga syahid melawan Belanda, setelah itu baru menikah dengan Teuku Umar, dilanjutkan dengan tarian Kutidhing

Tarian Kuthiding yaitu tarian tradisional Aceh yang berasal dari syair kuno dengan makna sakral, yaitu memanggil sosok harimau perempuan (Rimueng Aulia) yang dihormati masyarakat Aceh. Tarian nyo kon hanya tidak hanya menampilkan gerakan yang anggun tetapi juga kaya akan nilai-nilai budaya, spiritualitas, serta menggambarkan keberanian dan kebaikan dalam masyarakat Aceh.


(Kamis, 4/9/2025) kesempatan ini menampilkan drama Cut Nyak Dhien dan Tari Kutidhing dari kelas IX-3 yaitu  Ibu Nani Ulfa, S.Pd selaku wali kelas dan motto hari ini : “Siuro Latihan Tetap Semangat “

Melalui kegiatan Seudati Aceh hari ini diharapkan dapat menjadikan budaya Aceh kembali dilestarikan, kembali dijaga, dan kembali dipraktikkan secara maksimal.

 Penulis : Eka Afriliani, S.TP

LINK TERKAIT