SEDATI (SEHARI BERBUDAYA PASTI) ACEH DI SMP NEGERI 2 BANDA ACEH MENAMPILKAN TARI RATOH JARO DAN TARI MEuGROB (PERAYAAN HARI RAYA)

SMP Negeri 2 Banda Aceh mengenalkan kembali budaya-budaya serta kearifan lokal di tanah Serambi Mekkah kepada peserta didik merupakan salah satu usaha untuk tetap melestarikan budaya Aceh. Mengingatkan kembali budaya Aceh. ( 30/10/2025) kesempatan ini menampilkan Tari Ratoh Jaro dan Tari Grob

EDATI (SEHARI BERBUDAYA PASTI) ACEH DI SMP NEGERI 2 BANDA ACEH MENAMPILKAN TARI RATOH JARO DAN TARI MEuGROB (PERAYAAN HARI RAYA)

Banda Aceh- SMP Negeri 2 Banda Aceh mengenalkan kembali budaya-budaya serta kearifan lokal di tanah Serambi Mekkah kepada peserta didik merupakan salah satu usaha untuk tetap melestarikan budaya Aceh. Mengingatkan kembali budaya Aceh.

 30/10/2025) kesempatan ini menampilkan Tari Ratoh Jaro dan Tari Grob, dari kelas VII-1 dengan wali kelasnya Ibu Nanda Putri Zuhra, S.Pd.

Tari Meugrob merupakan salah satu tari tradisional yang berkembang di Gampong Pulo Lueng Teuga Kecamatan Glumpang Tiga Kabupaten pidie. Tari Meugrob memiliki keragaman gerak dan pola lantai dalam bentuk penyajiannya. Keragaman tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat Gampong Pulo Lueng Teuga yang memiliki sifat kekeluargaan dan kekompakan dalam menyambut warga yang pulang dari perantauan dan pengantin baru.

Tari ini hanya ada di Gampong Pulo Lueng Teuga dan hanya berkembang di gampong tersebut, tarin ini merupakan tarian yang sangat unik dan harus di lestarikan, krena dengan tarian ini msyarakat gampong bisa memiliki tali persaudaraan dan kekompakan yang kuat, dengan tarian ini juga dapat menyatukan segala macam bentuk perbedaan pendapat.

Tarian ini juga membuat orang yang telah pergi merantau sejauh apapun akan pulang dan melakukan tarian ini pada saat malam lebaran tiba. Oleh karena itu kita harus mengenal dan mengetahui tarian yang telah menjadi sebuah tradisi wajib yang dilaksanakan pada saat malam Idul Fitri.

 Melalui kegiatan SEDATI Aceh hari ini diharapkan dapat menjadikan budaya Aceh kembali dilestarikan, kembali dijaga dan kembali dipraktikkan secara maksimal, kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan budaya Aceh.

  Penulis : Eka Afriliani, S.TP

LINK TERKAIT